Kamis, 17 Februari 2011

Baladawai Soundversation



Diawali dengan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan YME atas berkat dan rahmatNya sehingga kami dapat melewati proses untuk menghadirkan acara BALADAWAI SOUNDVERSATION ini kepada anda.
BALADAWAI SOUNDVERSATION bisa diartikan secara singkat dengan istilah festival dawai(senar),dalam hal ini kami mengangkat alat-alat musik yang berdawai dalam satu panggung dengan berbagai macam karakter suara dan genre musik yang berbeda-beda. Tak lupa dengan adanya orkestra yang adalah produk budaya barat yang mempunyai kelas tersendiri di dunia musik,oleh sebab itu kami menjadikan Orkestra sebagai bagian dari acara ini agar bisa memberikan kesan yang eksklusif dengan alunan nada-nada dalam harmonisasi yang indah.
Oleh karena itu kami menyajikan BALADAWAI SOUNDVERSATION kehadapan anda,dan semoga acara ini bisa memberikan edukasi dan hiburan kepada anda sekalian.

PROGRAM
1. Anak Jalanan. Arr:LB Basscom
2. Lilin-lilin kecil. Arr:Bertopah IMB
3. Kala Cinta Menggoda. Arr:Lapis Legit Kerontjong
4. Untukku. Arr:Dyah Ayu Nur Sekaring Utami
5. Badai Pasti Berlalu. Arr:Derry Novalia & Fensy Sella
6. Seperti Yang Kau Pinta. Arr:Fadliansyah & Widya Febrianti
7. Medley Aku Cinta Dia&Hip-hip Hura. Arr:Yudhistira Firdaus
8. Kala Sang Surya Tenggelam. Arr:Muhammad Iqbal
9. Janger. Arr:Tohpati
10. Gembala. Arr:Tohpati
11. Negeriku. Arr:Tohpati

Profil Angakatan 2007 Pendidikan Seni Musik UPI

Pada tahun akademik 2007-2008 Jurusan Pendidikan Seni Musik Universitas Pendidikan Indonesia menerima 86 mahasiswa/i melalui tiga jalur, yaitu jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan, jalur UM UPI (Ujian Mauk UPI), dan jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Namun yang masih aktif hingga saat ini sebanyak 77 orang. Para calon mahasiswa/i yang mengikuti seleksi tidak dituntut untuk memiliki kemampuan pada tingkatan tertentu, akan tetapi yang menjadi modal utama adalah bakat yang bersifat lebih mendasar. Hal ini dikarenakan bakat dapat dijadikan pondasi untuk membangun individu yang memiliki daya serap tinggi terhadap berbagai ilmu yang akan didapat selama proses perkuliahan, sehingga menghasilkan musisi yang berpendidikan dan berwawasan luas. Selain untuk menjadi praktisi musik, mahasiswa/i angkatan 2007 Jurusan Pendidikan Seni Musik UPI mengikuti berbagai organisasi atau kelompok-kelompok yang terdapat di lingkungan Jurusan Pendidikan Seni Musik maupun di lingkungan Universitas, diantaranya Orkestra Bumi Siliwangi (OsBS), Paduan Suara Mahasiswa (PSM), Elbe Jazz Big Band,Basscom (Bassist Community) dll yang merupakan wadah bagi mahasiswa yang menekuni musik Barat. Sedangkan Ensambel Kyai Fatahillah (EKF), Angklung Seni Musik dll, merupakan wadah untuk mendalami musik karawitan atau musik tradisional.
Hingga saat ini mahasiswa angkatan 2007 telah menunjukkan eksistensinya pada masyarakat. Sebagian besar telah berprofesi sebagai pengajar di berbagai lembaga pendidikan. Selain itu ada pula yang menjadi praktisi musik dan tergabung dalam kelompok musik. Disamping itu, banyak event yang telah diikuti, tak hanya di dalam negeri tetapi hingga ke mancanegara. Berbagai prestasi pun telah berhasil diraih, baik atas nama individu maupun kelompok sehingga membuat harum nama Jurusan Pendidikan Seni Musik pada khususnya dan Universitas Pendidikan Indonesia pada umumnya.
Pada semester tujuh ini, mahasiswa/i angkatan 2007 dihadapkan pada sebuah tantangan yang mengharuskan mereka untuk lebih serius dalam mengorganisir suatu pertunjukan musik. Terdapat satu mata kuliah yang mampu menjadi jembatan antara mahasiswa dengan tantangan tersebut, yaitu mata kuliah Manajemen Pertunjukan. Mata kuliah Manajemen Pertunjukan bertujuan untuk mengasah kemampuan mahasiswa/i sehingga mampu membuat serta mengolah dan menghasilkan sebuah pertunjukan musik yang berkualitas tinggi, serta dapat menjadi bekal bagi mahasiswa saat terjun langsung ke industri musik. Adapun dampak positif secara psikologis yang di dapat para mahasiswa berupa kesadaran akan pentingnya suatu kerjasama dalam sebuah tim. Selain itu, diperlukan adanya hubungan dengan pihak luar (sponsor, media partner, maupun individu). Terdapat bebagai kesulitan yang kami hadapi sejak perencanaan sampai menjelang pelaksanaan pertunjukan musik ini. Akan tetapi, kami sangat berterimakasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kerja keras kami, serta menjadikan semua hambatan itu tak berarti apa-apa bagi terlaksananya pertunjukan ini.


Conductor
Syaeful Husni Sadikin, S. Pd.

Putra Pertama dari 3 bersaudara pasangan Hasanudin dan Nia Kurniasih ini lahir pada tanggal 12 Juli 1986. Sejak umur 10 tahun, syaeful memulai perjalanannya dalam dunia musik dengan belajar Vokal di Adjie Esa Poetra. Sejak kecil, Syaeful sudah memiliki bakat menyanyi dan mahir bermain drum hingga SMA. Syaeful pun seringkali menjuarai lomba menyanyi yang diadakan di sekolahnya.

Syaeful memulai pendidikan musiknya pada usia 18 dengan menekuni instrument trombone di Jurusan Pendidikan Seni Musik UPI di bawah bimbingan Bapak Udo. Dia pun terlibat sebagai pemain Elbe Big Band dan Orkestra Bumi Siliwangi. Keseriusanya dalam bermusik telah dibuktikan oleh beberapa prestasi yang ia raih. Ia pun sempat aktif mengajar vokal di Maestro Music School dan mengajar angklung di beberapa sekolah.
Syaeful juga sempat mengisi di beberapa acara seperti Opera Van Java (OVJ), Opera Anak, Pas Mantab di Trans 7. Banyak pengalaman yang dia peroleh selama berkiprah di dunia musik.
Pada kesempatan kali ini, Syaeful dipercaya untuk menjadi conductor dalam pertunjukan “Baladawai Soundversation”

Music Experiences:
-Vokal Grup Prameswara Voice
-Gita Bahana Nusantara Orchestra 2009
-Elbe Jazz Big Band
-Orkestra Bumi Siliwangi
-ITB Big Band Concert 2006-2008


TOHPATI
Tohpati Ario Hutomo (lahir di Jakarta, 25 Juli 1971; umur 39 tahun) adalah seorang gitaris dan penulis lagu Indonesia.
Tohpati merupakan salah satu gitaris jazz yang terkenal. Hal tersebut dikarenakan seringnya ia tampil di TV bersama penyanyi-penyanyi pop seperti Krisdayanti, Glenn Fredly, Rossa, Chrisye, dan lain-lain. Banyak karya-karyanya memadukan elemen kebudayaan tradisional sejalan dengan usahanya untuk memadukan unsur modern dan unsur tradisional Indonesia dalam musik-musiknya. Aliran musik jazz-nya dipengaruhi oleh banyak gitaris jazz dunia, tapi yang paling besar dalah pengaruh dari gaya permainan Pat Metheny.
Sejak masih remaja ia sudah sering tampil di panggung-panggung Jakarta. Bahkan ia pernah menyabet gelar Gitaris Terbaik pada Festival Band se-DKI pada saat usianya baru 14 tahun. Kemudian tahun 1989 juga terpilih menjadi Gitaris Terbaik festival Band se-Jawa. Di tahun itu juga ia menyabet gelar Gitaris Terbaik pada Yamaha Band Explosion tingkat Nasional.
Tahun 1993, ia kemudian tergabung dalam grup "Simak Dialog" yang beranggotakan Riza Arshad, Arie Ayunir, dan Indro. Nama yang disebutkan terakhir ini kemudian menjadi orang yang paling sering bermain bersama Tohpati dimana-mana. Bersama "Simak Dialog" Tohpati telah merilis tiga album : Lukisan, Baur, dan Trance / Mission.
Tahun 1998, Tohpati merilis album solo perdananya. Dalam album ini ia menampilkan beberapa penyanyi seperti Shakila dan Glenn Fredly yang beberapa waktu sebelumnya baru mulai meroket namanya bersama grup "Funk Section". Untuk mempopulerkan albumnya, Tohpati merilis video clip lagu berjudul Lukisan Pagi yang dibawakan bersama Shakila. Lagu tersebut sangat populer dan menjadi jawara di beberapa tangga lagu di tanah air.

Album keduanya, Serampang Samba, lebih banyak menyajikan hits-hits instrumental. Berbe da dengan album sebelumnya, kali ini Tohpati hanya merilis video clip lagu Jejak Langkah Yang Kau Tinggal yang dibawakan bersama Glenn Fredly. Serampang Samba juga memuat lebih banyak musik-musik tradisional Indonesia dengan saratnya permainan gitar akustik dan elemen-elemen musik Bali. Bisa dibilang album ini lebih idealis dari album sebelumnya.

MAYA HASAN

Maya Hasan yang memiliki nama lengkap Maya Christina Worotikan Hasan (lahir di Hong Kong, 10 Januari 1972; umur 38 tahun) adalah pemain harpa Indonesia. Ia juga sempat bermain dalam film layar lebar Koper. Selain itu Maya juga aktif berperan dalam pentas teater.
Bungsu lima bersaudara buah hati pasangan Mohamad Hasan (alm) dan Sri Mulyati ini mulai tertarik dengan harpa sejak SMP dan belajar harpa dari Heidy Awuy. Memang saat itu di Indonesia hanya ada dua orang yang terbilang master harpa, yaitu Awuy dan Ussy Piters anggota TNT Orchestra. Di tahun 1990, Maya melanjutkan sekolah ke Willamette University, Salem, Oregon, Amerika Serikat, mengambil jurusan Harp Performance. Selama menuntut ilmu, Maya juga tergabung dalam The Salem Chambers Orchestra, Salem, Oregon, Amerika Serikat. Maya juga sempat mendapat beberapa penghargaan seperti The Music Talent Award, The Stannus Music Award, The Violet Burlingham M.P.E. Award.
Wanita berdarah Cina, Kalimantan, Madura, dan Jawa ini pun kembali ke Indonesia usai menyelesaikan pendidikannya di tahun 1993, meski di Indonesia tidak banyak tempat untuk bermain harpa. Namun hal itu tak sepenuhnya benar. Sekembalinya ke Indonesia, Maya kerap diundang tampil bersama dengan beberapa orkestra musik klasik seperti Nusantara Chamber Orchestra, Twilite Orchestra, Malaysia Philharmonic Orchestra, Surabaya Symphony Orchestra, Erwin Gutawa Orchstra, dan The World Harp Ensemble bersama empat harpis dari Kanada, Jepang, Puerto Rico, dan Amerika Serikat, selain beberapa resital solo harpa maupun gabungan.
Di tahun 2000, Maya merilis album rekaman Sea Breeze bersama kelompok musik bentukannya, Celtic. Sayang album ini tak terlalu meledak di pasar, namun cukup mengenalkan Maya pada publik Indonesia. Nama Maya mulai melejit kala mengisi “Kasih Tak Sampai” di album Sesuatu Yang Tertunda(2001) milik Padi. Maya juga pernah terlibat dalam pentas teater EKI Produciton memainkan lagu “Harp For Sale” yang masuk dalam album Gallery of Kisses (2002). Maya juga pernah sibuk melatih anak-anak dalam pementasan seni berjudul Bajak Laut Pulau Boli Boli.
Tak hanya berkiprah di dunia musik, Maya juga pernah menjajal akting dengan bermain dalam film layar lebar Koper (2006), berperan sebagai Jasmin, orang yang tertindas dan merana.
Maya menikah dengan pria yang telah menjadi sahabatnya selama dua tahun dan berpacaran selama enam bulan sebelum akhirnya memutuskan menikah. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai 3 orang anak, Alexandra Natasha Worotikan, Andrea Christina Worotikan dan Austin George Worotikan.

Penghargaan :
The Music Talent Award,
The Stannus Music Award,
The Violet Burlingham M.P.E. Award,
Golden Musician Award-PAMI,
Perempuan Pilihan Metro TV,
Indonesia Tattler Society

Diskografi :
Sea Breeze bersama C’Briz (CHIRA Production, 2000),
Kasih Tak Sampai bersama grup musik Padi (2001),
Harp for Sale dalam Gallery of Kisses Soundtrack (EKI Production, 2002),
Jazzy Sax bersama Bintang Bass and Arif memainkan lagu Song for Maya (2003),
Aku Lala Padamu dalam album in Sujiwo Tejo (2005),
Heaven bersama grup musik Maliq & d’essential (2006),
Because of Christmas (2007)

“Tohpati Trio”
INDRO HARDJODIKORO
Menyebut nama Indro Hardjodikoro dalam dunia bass dan Jazz di Indonesia seperti membentangkan sebuah sejarah yang cukup panjang.
Indro telah bermain dan rekaman untuk Halmahera (dua album; Kuyakini dan Khayalanku), simakDialog (dua album; Lukisan dan Baur), Earth Music (bersama perkusionis asal Australia Ron Reeves, Indra Lesmana, Cendi Luntungan, saksofonis Arif Setiadi), Dwiki Dharmawan, serta banyak album penyanyi papan atas tanah air yang menerakan namanya sebagai session player yang handal dan dapat bermain all around dengan ciri yang khas.
Setelah banyak memberikan kontribusi buat kelompok lain atau lazimnya disebut sideman, Indro Hardjodikoro kini merilis album perdananya bertitel “Feels Free” dan untuk mendukung langkahnya tersebut One Note Entertainment mempersembahkan “Indro Hardjodikoro Feels Free Concert”.

DEMAS NARAWANGSA
Lahir di Jakarta pada tanggal 9 April, 1993. ia mulai belajar musik sejak dia berusia 5 tahun, dimulai dengan Piano Klasik. Pada usia 6 tahun, ia mulai mengambil pelajaran drum dengan Mr Samboedi. Ketika ia berusia 8 tahun ia menerima beasiswa dari LPM Farabi.

music Experience :
Juara 1 Juara Lomba Drum Indomusic Expo 2000 (Kategori Umum)
Juara 1 Juara Kompetisi Drum Yamaha 2002 (Kategori Umum)
The Best Drummer (Jakarta) Asian Beat 2003
The Best Drummer (Jakarta) Asian Beat 2004
Singapore DrumFest Asing Terbaik Kontestan 2008

Saat ini Demas juga bermain di berbagai jenis musik seperti jazz, latin, fusion, rock, pop, progresif, musik dunia dan banyak lagi. Selain sebagai pendiri Kulkul & IYR, ia juga sebagai drummer sidang banyak kelompok di Indonesia

BERTO PAH
Berto Pah adalah salah seorang pemuda asal Kupang-NTT yang melestarikan dan memperkenalkan kesenian asli Indonesia yang berasal dari daerahnya sendiri yaitu alat musik Sasando. Dilahirkan di Kupang pada tanggal 12 Agustus 1984, dari pasangan Bapak Jermias dan Ibu Tin Ndaong (alm). Pemuda yang dibesarkan di Desa Oebelo, Kabupaten Kupang Tengah ini, tetap gigih dan tangguh dalam menjalani hidupnya. Berto merupakan salah seorang penyandang tuna daksa yang pernah mendalami keterampilan Elektro selama mengikuti rehabilitasi vokasional penyandang cacat di BBRVBD Cibinong - Kementerian Sosial RI pada tahun 2008.

Di balik kekurangan fisiknya, namun ia memiliki semangat yang luar biasa dan mampu bersaing di dalam kerasnya persaingan dunia entertaint. Selain sebagai pemain Sasando dan pernah menjalani pendidikan di BBRVBD, ia juga pernah bekerja sebagai teknisi, tampil di berbagai acara-acara baik formal maupun informal, dan salah satu prestasi yang paling membanggakan adalah pernah menjadi salah satu semi finalis di salah satu ajang pencarian bakat paling bergengsi di Indonesia yaitu program “Indonesia Mencari Bakat” yang di selenggarakan oleh Trans TV.

Dengan berhasilnya ia terpilih menjadi semi finalis di ajang bergengsi tersebut, kini ia menjadi lebih di kenal oleh banyak masyarakat dan berhasil memperkenalkan salah satu alat musik bernama Sasando yang sudah hampir di lupakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sendiri.

BRINETS IDOL
Brinets Sudjana, Gadis cantik kelahiran Bandung ini lebih dikenal dengan panggilan Brinets Idol. Lahir pada 31 maret 1989. Mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung ini memulai perjalannya dengan dunia musik dengan belajar vokal di Elfa Music dan Adjie Esa Poetra. Ia pun seringkali menjuarai berbagai perlombaan di dunia tarik suara. Selain hobi menyanyi, putri pasangan Bapak Brilyan Sudjana dan Ibu Dini Rochdiani ini juga mahir dalam bermain piano.
Saat ini, ia pun aktif mengajar vokal dan mengisi acara di berbagai acara musik.
Music Experience:
1. Finalis 8 besar Indonesian Idol 2006
2. Juara 1 lomba menyanyi Bandung Raya 2004
3. Mengikuti pendidikan vokal di Elfa’s Music Studio dan Adjie Esa Poetra
4. Tampil pada acara Jazz Goes to Campus 2009
5. Tampil pada acara Java Jazz Festival 2010
6. Album Kompilasi bersama Idang Rasjidi (Jazz Easy Listening)
7. Menyanyi dalam pemecahan rekor muri 10000 angklung Saung Angklung Udjo
8. Instruktur vokal di Elfa’s Music School
9. tampil pada event-event musik lainnya dan sempat mengisi vokal pada album- album kompilasi lainnya.
10. Sedang dalam proses pembuatan album solo dengan genre pop-jazz.

AGUS HIKMAT (Agus Banjo)
Komitmennya terhadap musik country khususnya bluegrass dan ketertarikannya pada instrument banjo, membuat eksistensinya sebagai banjo player diakui komunitasnya. Pria asli Bandung yang dikenal dengan nama Agus Hikmat ini memang dikenal dengan teknik bermain banjonya yang cukup apik. Sosoknya yang low profile membuat beberapa temannya tak segan menjadikan dia sebagai partner sekaligus guru dalam bermusik. Karena pengalamannya, dia juga terlibat memperkuat barisan “penjaga gawang” Bandung Country Stage.

Agus Mulai tahu dan kenal banjo sejak kelas 2 SMP, sekitar tahun 1978
Agus sendiri mempelajari teknik main banjo secara otodidak, selebihnya suka baca dan belajar teorinya dari buku, kemudian akhirnya terinspirasi dan belajar dengan melihat teknik-teknik memainkan banjo yang biasa dibawakan sama pemain-pemain banjo seperti Toni Trisca, Earl Scruggs dan yang lainnya.
Lebih jauh Agus menuturkan kalau teknik bermain banjo itu memang cukup banyak, dan tergantung pada jenis lagunya juga, diantaranya ada teknik standar (dengan cara dipetik), teknik claw hammer dan scruggs. Tapi pada intinya basic polanya sama seperti gitar petikan. Selain itu, banjo juga mempunyai jenis yang berbeda, ada banjo 5 string yang paling umum digunakan, banjo 4 string yang biasa dipakai untuk irama dixie dan banjo gitar yaitu jenis banjo yang dimainkan persis seperti gitar.
Eksistensi Agus sebagai pemain banjo muncul bersama By Pass, band country pertamanya di tahun 80an. Dia juga sempat tergabung dan menjadi additional di hampir semua band country Bandung seperti Hillybilly, El Vondo, Poker, Bronco, Rodeo, LPC, Ditto Ditty, Laken, Ladam, The Saddle, Nahama, Aliansi dan Joe Arkansas. Bahkan Tantowi Yahya sempat melibatkan Agus untuk mengemas musik yang dibawakannya, termasuk untuk penampilan Tantowi dalam festival musik country di Nashville. Terakhir, sentuhan banjo Agus menjadi bagian arransement lagu “Kawan” ciptaan Presiden Yudhoyono.

Dari pengalamannya di musik selama ini, Agus berpendapat kalau pada intinya sisi terpenting dari seorang musisi adalah mau menunjukan jati dirinya dan konsisten menjalaninya dengan totalitas.

TRIO Guitar
Agung Ridho Widhiatmoko, S.Sos.
Band Member : Burgerkill, Fellow
Riwayat Pendidikan Musik :
- Studio 5 Bandung
- Yamaha Musik Indonesia
- Flange Music Studio
- Seni Musik Universitas Pasundan
- Ronny Jazz Music
- Purwacaraka
- Ridwan Classical Guitar
- Venche Music School
- Yono Music
- Elfa's Jazz House
- Gilles e. d. Neve Asia Guitar Lab.


Hin Hin 'Akew' Agung Daryana, S.Sn.

Band Member : Beside
Riwayat Pendidikan Musik :
- Yamaha Musik Indonesia
- Flange Music Studio
- Purwacaraka
- Ridwan Classical Guitar
- Venche Music School
- Sekolah Tinggi Seni Indonesia

Nico
Band Member : Ballerina
Riwayat Pendidikan Musik :
- Venche Music School
- LPM Farabi
- Flange Music Studio Sakura Himabaja Taishogoto

ASEP SOLIHIN (ACOL)
Pemain Kecapi yang akrab dipanggil Acol ini Lahir di Sumedang pada tahun 1980. Acol telah banyak menjuarai berbagai lomba dalam bidang Kecapi.
Music Experience:
- Juara 1 kacapi celempungan se –JaBar 2004
- Festival musik tradisional di Malaysia 2004
- Kolaborasi musik dengan Band Slank
- Road Show bersama Djarum dalam Kecapi Kreasi
- Juara 1 TPI dalam acara Band Gelo Markus band
- Sebagai musik pengiring di acara sinden gosip Trans TV 2009
- Road Show with Samba Sunda di Belanda 2009

LAPIS LEGIT
Berangkat dari keinginan seni musik UPI untuk memiliki wadah kesenian yang lain selain yang dimiliki ketika itu, seperti gamelan, Okerstra, Big Band dan lain-lain. Maka tahun 1998 didatangkanlah seperangkat instrument keroncong dari kota pengrajinnya lansung, kota solo.
Seiring dengan waktu orkes keroncong ini telah mengalami berbagai pengalaman berharga dan semakin diakui eksistensiny dikalangan musisi keroncong, baik di bandung maupun daerah lainnya.
Semenjak berdiri dari tahun 1998 sampai sekarang, orkes keroncong ini mengalami tiga kali regenerasi , dan yang aktif saat ini merupakan generasi ke tiga yang terdiri dari alumni dan mahasiswa jurusan pendidikan seni musik UPI.
Musik keroncong ini tidak terpaku pada aturan-aturan keroncong, dengan kata lain mengalami perkembangan sesuai genre musik yang ada, tetapi pada dasarnya estetika bermusik keroncong tetap dipegang teguh oleh orkes keroncong ini. Terbukti dengan pernah beberapa kalinya orkes keroncong ini tampil berkolaborasi dengan genre music lain.

Music experience :
1. Word Music Made Quarter, 2003
2. Kerontjong Fiesta, 2004
3. Repoeblik Kerontjong ( kolaborasi dengan keroncong Tugu), 2008
4. International Kerontjong Festival, Solo 2008

Pengalaman tampil ini hanya sebagian event yang diikuti, selain itu direntang waktu tersebut orkes keroncong ini sering tampil diberbagai acara seperti acara pernikahan, peresmian gedung, peringatan ulang tahun berbagai instansi dan lain-lain.
Flute :Galih
Cak :Cingheu
Cello :Odeng
Gitar :Indro
Vocal :Sekar
Contra Bass :Egi
Cuk :Angga
Violin :Dafiq

Sakura Himabaja Taishogoto
Taishogoto adalah salah satu instrumen atau alat musik Jepang yang pertama kali muncul pada periode Taisho (1912-1926). Taishogoto adalah semacam sitar. Hal ini pada dasarnya kotak suara akustik dengan string panjang membentang di atasnya. Pasak yang digunakan untuk menyetel string adalah perangkat yang menyerupai kepala gitar akustik. Alat ini memiliki tombol bernomor seperti mesin tik itu ditekan batang logam di atas senarnya. Tangan kanan memetik senar di sisi kanan, sementara tangan kiri digunakan untuk menekan ke bawah tombol-tombol yang mengubah pitch dari string. Ada juga versi listrik dari instrumen tersebut, sering menampilkan tombol-tombol dan pick-up seperti gitar listrik.
alat musik Jepang yang menarik ini sudah mulai jarang terdapat di Jepangnya sendiri. bahkan untuk sebagian orang Jepang, mereka tidak mengetahui alat musik macam apa taishogoto.
Namun di Himabaja sendiri, kami memiliki sebuah bidang yang khusus memainkan alat musik ini. Sakura Himabaja Taishogoto, begitulah bidang yang termasuk dalam divisi mikat (minat dan bakat) itu di beri nama. Terdapat sepuluh buah Taisho yang hanya ada sepuluh-sepuluhnya di Indonesia dan kesepuluhya hanya terdapat di UPI yang dikelola oleh himabaja.
Sejarah Taishogoto sampai di UPI awalnya adalah karena salah seorang sensei bernama Dewi Kusrini yang sedang melanjutkan studi di Jepang berkesempatan mengikuti salah satu klub Taishogoto di Jepang. Saat beliau telah menyelesaikan studinya dan hendak kembali ke Indonesia, Seorang sesei dari klub Taishogoto yang bernama Hitomi Nakaguchi menawarkan kepada beliau untuk membawa sepuluh buah Taishogoto ke Indonesia untuk diajarkan kepada Orang-orang Indonesia bagaimana cara memainkannya.
Dalam proses membawa taishogoto ke Indonesia sebenarnya tidaklah mudah. Banyak kendala, terutama dalam masalah merizinan. Namun akhirnya Taishogoto tersebut sampai ke UPI pada tahun 2003 dan dibuatlah sebuah bidang di Himpunan mahasiswa bahasa Jepang yang berkecimpung memainkan Taishogoto.
Sejak didirikan dan sampai sekarang, Sakura Himabaja Taishogoto sudah sering perform di berbagai acara dan kesempatan baik di dalam UPI maupun di luar UPI.
Taishogoto:
Yayo
Fany
Tantri
Ajeng
Yunisa
Irma
Luthfi
Dea
Uji


ORKESTRA BUMI SILIWANGI

Orkestra Bumi Siliwangi (OsBS), semula bernama Orkestra Simphony Bumi Siliwangi (OSBS), berdiri tanggal 20 Oktober 2002. Berawal dari gagasan Bapak Prof. Dr. H. Mohammad Fakry Gaffar, M.Ed. Sebagai pencetus dan pendiri OSBS.
Keanggotaan OsBS mencakup seluruh civitas akademika UPI, diantaranya adalah mahasiswa, karyawan, dosen dan alumni yang berada di bawah koordinasi Ketua Jurusan Pendidikan Seni Musik. Anggota OsBS merupakan sebagian dari mahasiswa yang mengambil spesialisasi alat gesek, tiup, atau perkusi.
OsBS merupakan unit kegiatan yang berfungsi sebagai wadah pembelajaran dan penyaluran keahlian dan bakat di bidang musik, khususnya dalam musik orkestra.
Acara-acara yang telah diikuti Orkestra Bumi Siliwangi :
 Penyambutan Presiden RI Megawati Soekarno Putri dalam acara peresmian gedung JICA, UPI 2002.
 Konferensi Olah Raga Internasional, JEC, Yogyakarta 2003.
 Semalam Bersama Rasul (MQTV dan RCTI), Sabuga, Bandung 2003.
 Peringatan Konferensi Asia Afrika, Gd. AACC, Bandung 2003.
 Konferensi Olah Raga Internasional, Hotel Panghegar, Bandung 2004.
 Peringatan Hari Olah Raga Nasional, Gd. Pemuda dan Olah Raga, Jakarta 2004.
 Peringatan HUT Pikiran Rakyat, Savoy Homan Hotel,Bandung 2004.
 Konser bersama Paduan Suara UNAI bertajuk “Widuri”, Gd. BPPT, Jakarta 2004.
 Drama Musikal “Kerajaan Burung”, Dago Tea House, Bandung 2004
 Peringatan HUT PLN, Gd. PLN, Jakarta 2004.
 “Student Concert I”, CCF, Bandung 2004.
 “Traditional Music in New Interpretation”, Dago Tea House, Bandung 2005.
 Konser Peduli Aceh bersama Paduan Suara Anak Ucillini, Bandung 2005.
 “Student Concert II”, Gd. Partere UPI, Bandung 2005.
 Konser bersama PMK “ Love Change Everything”, Balai Pertemuan UPI, Bandung 2005.
 “Kerontjong Fiesta Zonder Title”, Balai Pertemuan UPI, Bandung 2005.
 Drama Musikal “Honk”, Jakarta 2005.
 POMNAS, Stadion Olah Raga UPI, Bandung 2005.
 “Student Concert III” Gd. PKM UPI, Bandung 2005.
 “Komposisi Villa Isola”, Ujian Komposisi S2, Lembur Bitung UPI, Bandung.
 “ITB Big Band Jazz Festival”, sabuga, Bandung 2006.
 Konser Bersama PSM UPI, “25 tahun Hesty Moeradi Berkarya”, Balai Pertemuan UPI, Bandung 2006.
 Workshop Bersama Europe Camerata Orchestra, ISI, Yogyakarta 2006.
 “Cello Work SHOP and Recital with Mr. Asep Hidayat” UPI, Bandung 2006.
 “Konferensi Pendidikan Tingkat Nasional” Bandung 2006.
 Launching IMTV, Bandung 2007.
 Festival Bambu Nusantara, Jakarta International Expo, 18-19 Agustus 2007.
 Wisuda Politeknik Kesehatan Bandung, Sabuga, Bandung 2007.
 Seminar Musik Klasik, Aula RS. Borromeus, Bandung 2008.
 DUT-CHESTRA, Gd. Teater Tertutup Taman Budaya Bandung, 6 Februari 2008.
 Serial Concert I, BPU UPI 2008
 Festival Bambu Nusantara II, Sabuga, Bandung Oktober 2008.
 The Lord Of Harmonic Rockestra, Sabuga Bandung 2009.
 Hardiknas, Sabuga Bandung, Mei 2009
 Bergabung dalam Gita Bahana Nusantara menjadi kelompok orkestra pengisi Perayaan HUT RI ke 64 di Istana Negara Jakarta, Agustus 2009
 Serial Concer #2, BPU UPI 2010
 Chamber Series 2010, BPU UPI 2010
 Berbagai ceremonial UPI (Wisuda, Dies Natalies, Penerimaan Mahasiswa Baru, dan Pengangkatan Guru Besar), UPI, Bandung.
 Dan lain-lain

Conductor :Syaiful H Sadikin
Violin 1 :Raga Dwipa N
Kiki Abdul Haqi
Ridwan
Frans Y.A.P Kaviar
Robin
Fensi sella
Fitri S
Sandra
Violin 2 :Yoyo S
Erwin
Dewi N
Johan
Anggi
Asri K
Risang
Rinolla
Viola :Tomy
Fadliansyah
Agung
Dafiq
Cello :Widya F
Andrian
Andan A
Eka
Contra Bass :Ranti
Ryan
Flute :Galih
Angga P
Gilang
Clarinet :Hadist
Nuriman
Sax. Alto :Ibnu
Opik
Sax. Tenor :Syifa
Derry N
F.Horn :Dian
Cingheu
Emon
Trumpet :Oky
Ferdi
Trombon :Hendrik
Miftah
Perkusi :Pandu
Galih
Gitar :Risma
Electric Bass :Gendra



eLBe BASSCOM
Sebuah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang beranggotakan para Bassist di lingkungan Seni Musik UPI,nama eLBe sendiri diambil dari Lembur Bitung yang merupakan tempat perkuliahan yang bersejarah bagi para mahasiswa seni musik,seni rupa,dan seni tari yang mana saat ini tempat tersebut sudah tidak ada lagi karena adanya gedung perkuliahan yang baru,sedangkan BASSCOM adalah singkatan dari Bassist Comunity. Berdiri sejak tahun 2009,dan telah menyelenggarakan sebuah event BASS GOES TO CAMPUS with Fajar Adi Nugroho dan Buddy “Russel” x-topeng. Sampai saat ini UKM ini masih dalam tahap pengembangan organisasi.
Bass :Febby
Ilham
Firkan
Wibi
Piano :Simon
Rebab :Fajar Ojay
Kendang :Agoy
Drum :Galih


ARDY
PIANO

Musisi asli Bandung ini mulai mendalami instrument keyboard dan piano pada usia 15 tahun ketika menuntut ilmu di SMKN 10 (SMKI) Bandung di bawah bimbingan Dra. Pola Martiana dan Una Dairy Bayanullah. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Jurusan Pendidikan Seni Musik UPI pada tahun 2006 dengan spesialisasi instrument piano di bawah bimbingan Bpk. Dindin Ijudin dan Hendry Virgan. Dengan keahliannya bermain keyboard, pria kelahiran Bandung, 3 April 1988 ini telah meraih beberapa prestasi yang cukup membanggakan, salah satu diantaranya adalah “The Best Player Keyboardist pada lomba Kompetensi Siswa ke-14 Tingkat Nasional di Jakarta tahun 2006”. Bersama grup band-nya ia juga seringkali mengisi acara di beberapa CafĂ© di Bandung.

INTAN MAULANI
Gadis cantik kelahiran Bandung 3 Oktober 1989 ini sangat hobi menyanyi sejak duduk di bangku sekolah dasar. Anak dari pasangan Bapak Drs. Cecep Junaedi dan Ibu Antria ini sejak kecil memang sudah mempunyai bakat menyanyi. Intan telah banyak menjuarai berbagai perlombaan dalam bidang vocal saat ia masih sekolah.. Intan pun melanjutkan pendidikannya di Jurusan Pendidikan Seni Musik UPI dengan spesialisasi vokal di bawah Bimbingan Ibu diah Latifah dan Bapak Hesty. Keseriusannya dalam bermusik telah ia buktikan oleh beberapa prestasi yang ia dapat.

Music Experience :
-merilis album anti narkoba bersama polwitabes Bandung
-Juara 1 lomba Pop Song se Jawa Barat
-Ketua Prameswara Voice UPI
- Vokalis di berbagai acara Lativi dan TVRI
-dll

SEKAR LARASATI
Mahasiswi Tingkat 3 Jurusan Pendidikan Seni Musik UPI yang akrab dipanggil sekar ini memiliki vocal yang sangat khas. Cewek kelahiran Bogor 1 April 1989 ini sangat gemar menyanyi sejak kecil. Dengan alunan vokal merdunya, putri dari pasangan Bapak Jaya Iskandar dan Ibu Susilawati ini pun seringkali menjuarai berbagai lomba. Saat ini, sekar terus eksis dalam menyanyi di berbagai acara.

Music Experience :
- Juara 3 Popsinger Tingkat Kotamadya Sukabumi
- Juara 1 Popsinger Tingkat Kotamadya Sukabumi
- Juara 1 Lomba Keroncong Tingkat Kotamadya Sukabumi
- Peringkat 2 (GBN) Tingkat JABAR
- Harapan 2 Lomba Keroncong Tingkat Nasional PEKSIMINAS (JAMBI)

DAUD
Sarjana lulusan Jurusan Pendidikan Seni Musik Universitas Pendidikan Indonesia yang satu ini memiliki keahlian di bidang tarik suara. Berbagai prestasi pun telah banyak ia raih.

Susunan Panitia
Ketua Pelaksana : Valentinus Febrianto
Wakil Ketua : Muhammad Iqbal
Sekretaris : Fensy Sella
Bendahara : 1. Khosyatul laili
2. Mugi Nurul Husna
Kesekretariatan : 1. Ai Yeni
2. Sambas Nugraha
Humas : 1. Ilham Septia Inda Nugara
2. Robin Noviandry
Acara : 1. Dwi Novianti
2. Derry Novalia
Dokumentasi : Abdurrahman Bachsin
Publikasi : Rizky Chandra Sofyan
Transportasi : Risma
Show Director : Yudhistira
Stage Manager : Ahmad Andrian
Stage Crew : Ganjar
Dekorasi&Multimedia : 1. Melsya Firtikasari
2. Dwi Yuni N
Soud System : Agus Ginanjar
Penata Cahaya : Agat
Protokoler : Tiurma
Perlengakapan : Asep Oman
Dana Usaha : Andri Wardiansyah
Ticketing : Anna Nurilma
Konsumsi : Ratna Dewi Anjani
Koord L.O : Simon

Mahasiswa/i angkatan 2007 Jurusan Pendidikan Seni Musik UPI sebagai panitia dari “Baladawai Sondversation” mengucapkan dan menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas bantuan, kontribusi dan kerjasamanya Kepada Yang Terhormat :

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia
Pembantu Rektor Bidang Akademik dan Hubungan Internasional
Pembantu Rektor Bidang SDM dan Keuangan
Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni
Ketua Jurusan Pendidikan Seni Musik
Pembimbing mata kuliah “Manajemen Pertunjukan”
Dosen dan staff karyawan Jurusan Pendidikan Seni Musik
Alumni Seni Musik UPI
Mahasiswa/i Jurusan Pendidikan Seni Musik seluruh angkatan
Sasana Budaya Ganesha (SABUGA)
PT. Djarum
Semua Pihak yang telah membantu terselenggaranya “Baladawai Sounversation”

Kamis, 13 Januari 2011

_Belajar Kesederhanaan Pada Sang Juara_

“ Coba tebak, hadiah apa yang aku minta?” tanya gadis kecil itu pada dua sahabatnya.

Seperti berlomba, keduanyapun berebut menebak hadiah apa yang diminta sahabat kentalnya itu.

“ Sepatu baru, tas, baju, boneka, sepeda, hp, blackberry, laptop?” tanya mereka bersemangat.

Setiap mereka menyebutkan, setiap itu pula si gadis menggelengkan kepalanya. Tak ada yang bisa menebak dengan benar, akhirnya merekapun menyerah.

“ Kalian menyerah? “ si gadis tersenyum menggoda.

“ Ya! “ jawab keduanya kompak.

Si gadis kecil tak langsung memberikan jawaban. Ia tahu bahwa kedua sahabatnya pasti akan kaget, bahkan menertawakannya. Tapi ia tak mau curang, apapun tanggapan mereka, ia akan mengatakan yang sebenarnya.

“ Aku minta dibelikan es kelapa “ jawab si gadis apa adanya.

Sesuai dugaan, tanpa dikomando kedua sahabatnyapun tertawa. Mereka sama sekali tak menyangka kalau sahabatnya yang sejak kelas satu selalu jadi juara, ternyata hanya minta dibelikan es kelapa sebagai hadiahnya. Bagi mereka ini bukan saja lucu, tapi juga aneh bahkan keterlaluan. Dalam hal memilih hadiah, rupanya si gadis tak secerdas ketika sedang menangkap pelajaran di sekolah, pikir mereka.

Cukup lama mereka tertawa terpingkal-pingkal. Setiap ingat es kelapa, setiap itu pula mereka tertawa. Begitupun si gadis, ia ikut tertawa ceria. Tak ada yang salah dengan permintaannya, meskipun itu kini membuat kedua sahabatnya tertawa.

Puas tertawa, kedua sahabat si gadis pun ganti bercerita. Masing-masing menceritakan hadiah apa yang mereka dapat dari kedua orang tuanya.

“ Aku dibelikan sepeda baru sama bapakku. Malah sebelum rapot dibagikan, aku sudah lebih dulu dibelikan sepeda. Kata mamaku, bapak sudah punya firasat kalau semester ini aku bakal masuk sepuluh besar “ cerita salah satu sahabatnya bangga. Dia tidak berbohong, tadi pagi waktu ambil raport di sekolah, si gadis memang melihat sahabatnya itu naik sepeda baru.

Sahabatnya yang satu lagi tak mau kalah. Dengan semangat, dia yang semester ini berada di peringkat tiga bercerita bahwa ibunya akan membelikan dia hp multimedia keluaran terbaru. Sebenarnya kalau ia bisa mendapat ranking dua, Blackberry akan menjadi miliknya. Bahkan seandainya ia bisa ranking satu, sang ibu berjanji akan menghadiahkan sepeda motor baru.

**

Lelaki itu tak jua bisa memejamkan matanya. Hampir satu jam dia berbaring, rasa kantuk belum juga datang, justru semakin menghilang. Percakapan si gadis bersama dua orang sahabatnya tadi siang memenuhi pikirannya, menyesakkan dadanya.

Apa yang dikatakan si gadis memang benar adanya. Es kelapa muda di kios ujung pasar, memang itu yang dia minta. Ia juga percaya bahwa kedua sahabat si gadis tidak mengada-ada. Ia pernah mendengar cerita salah satu teman kerjanya. Jika sang anak bisa masuk tiga besar, ia akan membelikan hp edisi terbaru sebagai hadiahnya. Bahkan salah satu kakaknya berjanji akan membelikan laptop jika sang anak bisa meraih peringkat pertama. Wajar saja, selain dianggap baik oleh mereka, juga mereka mampu untuk membeli semua itu.

Lelaki itu mengulang doa tidurnya. Ia berharap bisa segera tidur malam itu.Tapi untuk kesekian kalinya, lelaki itu gagal memejamkan matanya. Ia pandangi wajah lugu si gadis yang tertidur pulas di sampingnya. Dia betulkan guling yang terlepas dari pelukan buah hatinya. Dia rapihkan rambut yang menutupi wajah mungilnya. Sebuah rasa menyesaki rongga dadanya. Ia teringat seraut wajah yang mirip sekali dengan gadis kecil di hadapannya.

Biasanya, saat-saat bahagia seperti ini selalu mereka nikmati bertiga. Tapi kini hanya berdua, ia dan gadis kecilnya. Lelaki itu berusaha keras menghibur hatinya. Ia panjatkan doa untuk orang yang sangat dicintainya.

Lelaki itu pandangi wajah polos itu dalam-dalam. Banyak pelajaran yang ia dapatkan dari gadis kecilnya. Kesabaran, ketegaran, ketabahan, keikhlasan dan juga kesederhanaan. Kesederhanaan seorang juara. Kesederhanaan yang pernah ditunjukan oleh almarhumah, juara yang sesungguhnya. Tak pernah mengeluh menghadapi ujian, juga tak menjadi tinggi hati kala berprestasi.

Bagi anak seusianya, pada umumnya mendapatkan nilai terbaik adalah kesempatan emas untuk memperoleh apapun yang ia inginkan dari kedua orang tuanya. Tapi tidak dengannya. Ia tak meminta sepatu, tas atau baju baru. Juga bukan boneka, sepeda ataupun hp multimedia seperti yang diminta sahabatnya. Dia hanya minta dibelikan es kelapa, sesuatu yang bisa dia dapatkan kapanpun tanpa harus menunggu menjadi juara.

Lelaki itu tersenyum haru. Ada butiran hangat meleleh di ujung matanya. Dia tahu persis kesederhanaan gadis kecilnya. Bukan kali ini saja, berkali-kali ia belajar kesederhanaan padanya. Saat kenaikan kelas kemarin misalnya. Meski kembali menjadi juara, si gadis hanya minta dibelikan sepuluh buku tulis yang berisi 58 lembar. Ada beberapa mata pelajaran yang tak cukup lagi jika masih menggunakan buku yang lebih tipis, itu alasannya. Juga ketika ujian tengah semester beberapa waktu lalu. Meski dinyatakan sebagai siswa berprestasi terbaik, si gadis hanya minta dibelikan sebuah bingkai photo berukuran 10 R untuk memajang piagam yang diperolehnya.

Subhanallah, walhamdulillah!
Bibir lelaki itu bergetar. Tenggorokannya terasa sakit untuk mengucapkan tasbih dan tahmid secara jelas. Rasa haru, pilu, bahagia sekaligus bangga bercampur menjadi satu, memenuhi rongga dadanya. Serangkai doa dia panjatkan untuk gadis kecilnya. Juga untuk sesorang yang sangat dekat di hatinya.

“ Sayang, aku bangga padamu. Aku berterima kasih atas kesederhanaan yang kau contohkan padaku. Tetaplah kau menjadi kebangganku, kebanggaan almarhumah ibumu. Meski kita tak bisa melihatnya, di alam sana ibumu tersenyum bahagia dan bangga padamu…..”

Penuh kasih sayang, lelaki itu mencium kening si gadis kecil yang sedang terlelap. Wajahnya terlihat berseri, barangkali ia sedang bermimpi bertemu orang yang sangat ia rindukan. Lelaki itu berharap bisa mendapatkan mimpi yang sama. Sekali lagi ia ulangi doa tidurnya. Dia berbaring miring ke kanan. Dalam hatinya, dia berharap malam itu Allah berkenan menganugerahinya sebuah mimpi. Mimpi indah, seperti dulu ketika mereka masih utuh bersama.

Selasa, 04 Januari 2011

_Integral Garis Sholat_

Kita memang harus mentransformasikan nilai-nilai Islam pada diri kita masing masing, sehingga tatanan Islam dapat tumbuh dari aspek mikro, Integral dari keseluruhan nilai Islam yang tertanam dalam diri individu inilah yang akan membentuk sebuah bangunan Islam yang kokoh, karena ia dibangun dari bata-bata pilihan, disusun dengan runtun yang rapi dan saling melekat dengan semen yang sangat rekat.

Saya pernah membayangkan sholat sebagai sebuah integral garis dalam grafik kurva bola. Meminjam istilah dari ilmu kalkulus, bahwa lingkaran sempurna tersusun dari garis-garis lurus sangat pendek yang menyatu dalam sebuah instruksi yang sama dengan arah tegak lurus pada satu titik, maka jadilah lingkaran. Begitu pula bola. Ia tersusun dari bidang-bidang datar kecil yang pada kondisi mikro akan terlihat lurus datar, akhirnya secara integral kita akan melihatnya dalam bentuk yang bulat, melengkung = bola. Faktanya, kita melihat tanah yang kita pijak ini datar, padahal dalam ruang makro, integral dari keseluruhan tanah, kita melihat bumi yang bulat, seperti bola, bukan persegi atau balok.

Bagaimana sholat yang kita lakukan sehari-harinya adalah pula membuktikan teori grafik kurva bola. Sholat, dalam shaf-shaf yang lurus, adalah hanya merupakan sebuah garis lurus, dari jutaan garis lurus lain yang dibuat umat Islam dalam ibadahnya. Garis ini, tegak pada satu titik, ka’bah, pusat ditujunya arah shalat. Bisa anda bayangkan, sholat di seluruh penjuru bumi ini, dengan shaf-shaf yang rapi-lurus – karena memang demikian rasul mengajarkannya – akan membuat sebuah garis yang melingkar, mengelilingi bumi. integralkan dalam suatu variabel, akan ditemukan lingkaran yang berlapis-lapis, seperti garis kontur dalam sebuah peta buta. Lingkaran ini akan semakin terlihat saat jarak ka’bah dengan orang yang sholat semakin dekat, terbukti, kita sering melihatnya di foto-foto birdview ka’bah saat musim haji, yang bentuknya mirip dengan galaksi bimasakti. Melingkar, melengkung, bukan lurus seperti awalnya.

Lingkaran yang mengelilingi ka’bah ini tentu saja akan membuat sebuah kutub di mana seluruh manusia di penjuru dunia mengarahkan wajahnya saat sholat. Lingkaran-lingkaran manusia yang mengelilingi ka’bah juga tentu saja akan semakin lebar diameternya, dengan jarak yang semakin jauh dengan ka’bah. Namun, pada akhirnya garis ini akan kembali mengecil, karena bentuk bumi yang bulat. Dan pada akhirnya akan menuju satu titik, yaitu antikutub dari ka’bah, titik dimana jika kita tarik garis lurus yang menembus tanah di bawah ka’bah akan menemukan tanah lagi di ujung lain bumi. Percaya atau tidak, di tanah ini, arah sholat bisa menghadap ke mana saja, karena memang semua arah akan menghadap ka’bah. Saya merinding jika membayangkan kebenaran ayat-ayat alQur’an.


Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (al Baqarah : 115)

Itulah mengapa kita temukan rahasia di balik syariat sholat untuk kaum Muhammad adalah boleh di atas tanah sekalipun. Bahkan di atas kapal dan kendaraan tetap diwajibkan sholat. Saat berada dalam kondisi kehilangan arah, maka sholat bisa ke arah mana saja. Karena sholat ini menjaga bumi, memelihara bumi di tiap jengkalnya, menghindarkan kemaksiatan tegak meski di satu titik di kurva bola dunia. Tak diperkenankan tegaknya maksiat saat wilayah itu berdiri tegak para orang yang shalat,
Innassholaata tanhaa anil fahsyaai walmunkar…

Dan yang lebih luar biasa adalah shalat merupakan ibadah yang sustainable, tak pernah berhenti meski sedetikpun. Itu terbukti saat kita melihat shalat dalam sisi makro, integral dari seluruh shalat di dunia. Jika di suatu tempat telah usai shalat maghrib, maka di tempat lain shalat maghrib baru saja dimulai, dan di tempat lain shalat maghrib baru akan dimulai. Saat di suatu tempat memulai shalat, di tempat lain sedang bersiap-siap untuk mulai shalat. Begitu terus berputar.

Saat makna ini kita transformasikan dalam kehidupan keIslaman kita secara utuh, maka usailah segala permasalahan umat. Rasulullah melalui wahyu Allah, mengajarkan nilai-nilai universal dalam tiap ibadah yang menjadi syariat. Saat nilai ini dimaknai dengan lebih dalam, maka perpecahan umat saat ini akan benar-benar tuntas. Karena saat ini umat tak berkiblat pada satu tujuan, tak bergerak dalam shaf yang rapi dan tidak menumbangkan maksiat meski telah ditegakkan shalat.

Jumat, 26 November 2010

_Buah Manis Dari Sebuah Kesabaran_

Aku mengenalnya empat tahun silam. Usianya terpaut empat tahun lebih muda dariku. Sebut saja Melati (bukan nama sebenarnya). Kami pertama bertemu saat bersama-sama melakukan tadabbur alam ke pantai Rayong bersama komunitas muslim Indonesia lainnya di Negeri Siam.

Melati menikah di tahun yang sama dengan pernikahanku (tahun 1995). Pernikahannya tergolong muda di jaman seperti sekarang ini. Aku menikah di usia 24 tahun, berarti tentunya Melati menikah di usia 20 tahun.

Sejak mengenalnya aku banyak belajar hal-hal baru yang tentunya bernilai positif. Banyak keunggulan yang dimiliki Melati sebagai seorang wanita sekaligus seorang istri. Walaupun usianya masih muda namun pengetahuannya sangat luas. Selain ia sudah menyandang gelar S2 dan menguasai berbagai bahasa asing, Melati juga pandai mengaji dan memiliki pemahaman yang baik tentang Islam. Tak heran, ia menjadi salah satu ustadzahku dalam menimba ilmu agama.

Tak hanya itu, Melati juga seorang yang sangat bersahaja, mandiri, dan seorang wanita yang kuat dalam menjalani hidup. “Tiada seorangpun yang dapat kita sandarkan termasuk suami, ayah, ibu atau kakak dan adik, kecuali Alloh,” sahutnya lirih kepadaku saat ia menghadapi cobaan hidup.

Persahabatan kami tak hanya seputar murid dan guru, Melati juga menjadi partnerku dalam bermain badminton di akhir pekan. Kami mempunyai tujuan yang sama, ingin menjaga kesehatan dan stamina tubuh.

Satu hal yang membedakan kami berdua, aku telah meraih gelar “ibu” sedangkan Melati masih berjuang mendapatkannya. Melati bercerita, berbagai ikhtiar telah dilakukannya sejak awal pernikahannya termasuk usaha bayi tabung. Namun akhirnya ia harus menelan kekecewaan saat mengalami keguguran di usia kehamilan satu bulan.

Entah satu dan lain hal yang aku sendiri tak tahu pasti, Melati berkata bahwa keguguran yang ia alami mengharuskannya menjalani operasi di perutnya. Maka sejak saat itu pula perutnya mengalami gangguan. Pihak rumah sakit di Negara Hitler tempat dahulu ia bermukim di sana, menyatakan bahwa Melati tak mungkin bisa hamil dan mendapatkan keturunan. Kejadian itu terjadi lebih dari 10 tahun silam. Melati berduka, pupus sudah asa menjadi seorang ibu dan menimang buah hati di pangkuannya. Namun ia tetap berusaha untuk tetap tegar dan selalu riang.

Seiring dengan kepindahannya ke Negeri Gajah Putih, suatu hari sempat aku utarakan kepada Melati agar ia mencoba untuk berobat lagi untuk mendapatkan keturunan.

“Setahuku, sudah cukup banyak lho orang-orang Indonesia yang berhasil mendapatkan keturunan di sini,” sahutku.

“Iya, sebetulnya aku sudah ada niat berobat lagi. Nanti deh kalau sedang agak longgar waktunya,” begitulah kurang-lebih jawaban Melati kepadaku. Tak sepertiku, Melati adalah seorang wanita karir yang bekerja di sebuah perusahaan besar sehingga hari-harinya sudah disibukkan dengan bekerja seharian di kantor. Sehingga akhir pekan menjadi sangat berharga baginya untuk melepaskan lelah sekaligus tetap mengurusi urusan rumah tangga lainnya. Jadwal yang cukup padat buat Melati.

Lama kami tak berjumpa. Dalam sebuah pengajian akbar di KBRI, aku bertemu lagi dengan Melati. Tiba-tiba di akhir acara, ia menghampiriku dan dengan sedikit berbisik ia berseru,” Mbak, aku hamil!”.

“Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS 16 : 96)

Aku terharu mendengarnya. Subhanalloh! Sahutku sambil memeluknya. Mataku sedikit berair. “Jaga kesehatan ya, Melati,” lanjutku kemudian. Pernyataan dokter tentang ketidakmampuannya memberikan keturunan terbukti keliru. Memang, jika Alloh sudah berkehendak maka tak ada sesuatupun yang dapat menghalanginya.

Kegiatan bermain badminton di akhir pekan tak dapat lagi dilakukannya. Sejak saat itu kami menjadi lebih jarang bertemu. Melati harus menjaga kesehatan dan kehamilannya dengan baik. Belum lagi, ia harus berjuang melawan rasa mual yang menjadi-jadi di awal kehamilan. Namun itulah anugerah yang tiada terkita buat kami, para ibu. Ya, itulah kenikmatan yang hanya diberikan oleh wanita-wanita pilihan-NYA kala memegang amanah untuk menjadi seorang ibu.

Tak terasa empat bulan berlalu. Semua tampak lancar-lancar saja. Namun suatu siang, aku dikejutkan oleh berita via sms tentang kehamilan Melati. Melati mengalami pendarahan. Astagfirullohal’adzim, semoga Melati dan bayinya diberikan kekuatan, kesehatan, dan keselamatan, jeritku dalam hati.

Alloh Hafidz, bayi dalam kandungannya dinyatakan sehat wal’afiat. Melati boleh pulang ke rumah dengan syarat harus tetap bed rest (istirahat di tempat tidur). Tak terbayangkan bagaimana besarnya pengorbanan yang dilakukan Melati dan berjuta-juta wanita lainnya selama masa kehamilan. Maka sudah sepantasnyalah predikat “surga di bawah telapak kaki ibu” disandang oleh wanita-wanita pilihan termasuk Melati.

Dua hari kemudian aku menjenguknya di rumah. Rupanya Melati mengalami plasenta yang letaknya di bawah (plasenta previa) sehingga akan terjadi pendarahan jika ia melakukan suatu aktivitas. Kulihat Melati berbaring tak berdaya di atas tempat tidur. “Sabar ya, Melati. Beginilah kalau menjadi ibu. Harus siap berkorban kapan saja, di situlah letak surganya,” sahutku perlahan. Aku yakin, Melati pasti lebih paham tentang hal ini daripada aku.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)...” (QS 46 : 15).

“Do’akan kami ya, Mbak. Aku sangat bersyukur dan bahagia sekali sudah bisa merasakan hamil dan sampai ke tahap seperti ini,” ujarnya sambil berusaha tersenyum. Tanpa ia jelaskan, aku sudah mafhum betapa bahagianya ia menyambut buah hatinya. Foto-foto hasil USG (ultra sono grafi) dipajang di dinding kamar Melati bersebelahan dengan tempat tidurnya. Belum lagi, berbagai literatur yang dibaca Melati untuk mempersiapkan kehadiran jabang bayi.

Melati menceritakan kejadian yang telah dialaminya malam itu. Sekitar pukul 12 malam ia terbangun dari tidur dan terkejut menemukan seprai tempat tidurnya berlumuran darah segar. Meski takut dan bingung, Melati berusaha berjalan perlahan dituntun sang suami menembus gelapnya malam mencari sebuah taksi menuju rumah sakit.

Ah, sudah tiga buah taksi yang ia hentikan di pinggir jalan namun tak satupun yang mau mengantarnya ke rumah sakit. Melati panik dan gelisah. Melati lupa, bahwa hari itu adalah hari terakhir masih berlakunya jam malam akibat konflik politik yang sedang melanda Negeri Gajah Putih saat itu. Sesuai aturan yang berlaku, tidak boleh ada yang keluar rumah saat jam malam diberlakukan (24.00-04.00). Jadi itulah sebabnya mengapa beberapa taksi tak bersedia mengantarnya. Allohu Akbar!

Do’a seorang wanita hamil, diijabah oleh Alloh dan di’amin’kan oleh beribu-ribu malaikat. Alhamdulillah, Alloh Maha Penolong, akhirnya taksi ke-4 bersedia mengantarnya menuju rumah sakit.

Singkat cerita, empat bulan berlalu sejak aku meninggalkan Negeri Siam untuk berhijrah pulang ke tanah air tercinta. Tiga hari lalu, aku kembali dikejutkan oleh berita tentang Melati. Namun kali ini berita gembira yang aku dapat dari sms telepon genggamku. Alhamdulillah, Melati telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat wal’afiat melalui operasi caesar.

Melati, kuucapkan selamat atas kelahiran buah hatimu yang telah engkau dambakan dan engkau tunggu 15 tahun lamanya. Aku turut bahagia. Aku do’akan dari jauh, semoga anakmu menjadi anak yang sholeh, yang menjadi penyejuk hati ayah-bundanya.
Melati, akhirnya gelar “ibu” berhasil kau raih. Betapa mulianya derajat itu sehingga patut kita syukuri bersama. Tak semua wanita mendapatkan gelar yang indah itu. Kau layak mendapatkannya. Semua itu adalah buah manis dari Yang Maha Penyayang dari kesabaran dan keihklasanmu selama ini.

Melati, semoga suatu hari nanti kita dapat bertemu kembali dan berkenalan dengan permata hatimu. Kelak kau akan menyadari betapa nikmat dan bahagianya menjadi seorang ibu seperti yang aku rasakan.

Wallohua’lam bishshowaab.

Rabu, 17 November 2010

Kisah Di balik Seorang “Ayah”


Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
"Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja....
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa.
Ketika kamu menjadi gadis dewasa....
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu.....
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti
Dan akhirnya....
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik....
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....
Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....
Papa telah menyelesaikan tugasnya....
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

Jumat, 29 Oktober 2010

_Deru Pesawat Terbang_

Pernahkah kalian naik angkot, lantas tiba-tiba dgn senang hati sopir angkotnya bilang, "nggak usah bayar, dik. gratis hari ini?"

Pernahkah kalian pergi ke kantor kades, lurah, ngurus KTP, lantas petugasnya sambil tersenyum bilang, "tunggu sebentar ya, 1 jam lagi KTP-nya pasti jadi." lantas sang petugas semangat betul mengurusnya, kesana-kemari, jadi, ketika mau diambil, mau ngasih uang lebih karena ihklas, si petugas sambil nyengir bilang, "maaf, tdk usah mbak, sudah kewajiban kami, kok."

Pernahkah kalian ditilang polisi, lantas pak polisi hanya menepuk bahu, tersenyum, "besok jgn lupa helm-nya ya mas, ayo, silahkan jalan lagi."

Pernahkah kalian bertemu dokter, berobat,diterima dgn senyum, dijelaskan dgn rinci, bahkan dia pandai sekali memberi tips agar sakit tak terulang, saat hendak membayar, "ini no hp saya ya, besok lusa kalau ada keluhan, nggak usah datang, sms atau telpon saja. kan repot jauh2 datang."

Pernahkah kalian punya teman yg mau berbagi apa saja, punya tetangga yg baik dan suka mengirim makanan? pernahkah...



Kemanakah pendidikan akhlak itu, yg tersisa hari ini adalah: sopir angkot galak mengejar setoran, petugas yg jangankan berpikir mengabdi, dokter dgn kepedulian terbatas, polisi yg lbh sering menyusahkan dibandingkan mengayomi, kawan yang sering mengajak kesia2an, tetangga yg kotor dan dengki hatinya..



Kemanakah akhlak mulia itu... maka jangan tanya pemimpin2 kita, jangan tanya org2 yg punya kekuasaan, acara2 di televisi, glamour orang menengah ke atas..



Di hari jum'at yg mulia ini, mari kita meneguhkan hati, merapatkan barisan, kesempatan itu tetap ada, ketika generasi baru terlahirkan dgn akhlak cemerlang bagai mutiara... mari kita serbu rumah2 mereka, kamar2 mereka, ruang makan, ruang tamu... dengan buku2, buku2 yg dibaca oleh anak2 mereka... maka ketika sekitar begitu rusaknya memberi teladan, smoga dgn buku2 yg baik mereka terinspirasi sebuah kebaikan... sesuatu yg disebut akhlak mulia!



Seperti deru pesawat terbang, membuat bergetar kolam tenang 30.000 kaki di bawahnya, membuat bergetar jendela2 rumah, begitulahkebaikan... membuat bergetar hati2 kita.

Jumat, 15 Oktober 2010

_Air Mata Surti_


Tidak seorang pun yang ingin jadi penduduk kelas bawah, termasuk Agus dan Surti. Alur kehidupan yang dijalani keduanya memuarakan mereka sebagai pasangan suami istri dengan seorang anak, berprofesi sebagai buruh pabrik sepatu, tinggal di kamar ukuran tiga kali tiga meter, penghasilan hanya cukup untuk makan.

Surti telah dua kali melahirkan. Kesehatan anak keduanya bermasalah. Sejak lahir, setiap habis menangis tubuh mungilnya membiru. Surti membawa bayinya ke Puskesmas. Dokter mengatakan kemungkinan besar si bungsu sakit jantung. Ia dirujuk ke rumah sakit Cipto.

"Oalah Nak, hidup kita susah begini, kok ngambil penyakit orang kaya," Surti bergumam sambil mencium pipi biru anaknya. Air matanya menetes saat menerima surat rujukan dari dokter Puskesmas.

Sebagai ibu, Surti ikhlas berhenti bekerja dan membawa anaknya berobat ke Cipto. Tapi, mereka terbentur biaya. Meskipun kartu miskin bisa diurus tetap saja ada yang harus dibayar. Dari rumahnya ke Cipto tiga kali naik angkutan umum. Pulang pergi enam kali ongkos. Dari mana uangnya? Upah Agus hanya cukup untuk bayar sewa kamar dan beli beras. Selama ini, upah Surti untuk beli lauk-pauk dan biaya lainnya. Tidak ada jalan keluar. Si Bungsu gagal berobat ke rumah sakit besar.

Tidak sanggup hidup berat di dunia, bayi merah Surti balik kepada Sang Khalik. Pasangan itu tergoncang. Mereka merasa bersalah. Terutama Surti. Hatinya perih dan pedih. Ia terluka.

Hidup Surti dan Agus terus mengalir. Seiring dengan berjalannya waktu, luka jiwa Surti berangsur sembuh. Meski, sakitnya masih terasa. Dalam keadaan batin belum stabil tersebut, badai kembali menghantam mereka. Krismon melanda negeri pertiwi, sehingga mempengaruhi kehidupan berbagai kalangan. Agus dan Surti turut jadi korban. Pabrik tempat Surti dan Agus bekerja bankrut.

Setiap hari, Agus, Surti, dan teman-temannya tetap datang ke pabrik. Mereka bergerombol dan mengobrol. Tidak ada pekerjaan lagi. Ketika sebuah koran memberitakan bahwa pemilik pabrik tempat mereka bekerja kabur ke luar negeri, semua karyawan dan buruh tersentak. Mereka merasa kecolongan. Secara spontan mereka berdemo di depan pabrik.

Namun, beberapa hari berdemo, tidak seorang pun petinggi pabrik yang menghampiri para karyawan. Mereka raib tak berbekas. Hanya wartawan yang memotret dan mewawancarai pendemo. Karena itu, Agus dan teman-temannya memutuskan berdemo di halaman kantor Depnaker. Mereka menuntut pemerintah memaksa pemilik pabrik bertanggung jawab terhadap nasib karyawannya.

Surti putus asa. Hari-harinya dan Agus habis untuk berdemo. TV 14 inci, satu-satunya hiburan Si Sulung, telah terjual. Surti sangat ketakutan membayangkan ia dan Agus tidak punya uang sama sekali. Ia tak mampu membeli nasi saat si Sulung lapar. Si Sulung akan lapar berhari-hari dan meninggal, seperti Si Bungsu. Tubuh Surti menggigil. Sebagai ibu, ia merasa tidak berguna lagi.

Diambilnya pisau. Lama diperhatikannya sisi mata pisau yang tajam. Surti melihat Si Bungsu di sana. Ia sehat dan montok. Di punggungnya tiba-tiba tumbuh sayap. Sambil terbang kian ke mari, Si Bungsu memanggil-manggil Surti. Ia mengajak Surti bermain-main di taman bunga yang indah. Surti ingin bergabung dengan Si Bungsu. Gagang pisau dipegangnya erat. Ia siap melayang.

"Mama mau potong apa?" tanya Si Sulung polos. Surti terperanjat. Si Sulung menyadarkannya kembali ke alam nyata. Buru-buru Surti meletakkan pisau. Dipeluknya Si Sulung dengan penuh haru. Si Sulung telah menyelamatkan jiwanya. Hampir saja ia menjadi pengikut setan, setan jahat yang mewujud Si Bungsu untuk menggodanya.

"Maafkan Mama, Nak. Mama tak akan meninggalkanmu. Mama akan cari uang. Kamu tidak boleh busung lapar," Surti berjanji. "Tuhan, ampuni hamba," mohonnya tulus. "Stop berdemo. Uang kita hanya cukup untuk bertahan seminggu, Bang," kata Surti pada Agus.

"Tidak! Abang dan teman-teman ingin kerja lagi atau dapat pesangon. Masa kerja kita telah belasan tahun, jadi pantas dapat pesangon," Agus bersikukuh. "Untuk makan sehari-hari, Sur, ngutanglah dulu di warung. Kalau pesangon telah keluar, semua kita bayar," Agus tetap kukuh pada pendiriannya.

Semalaman Surti tidak bisa tidur. Ia ingin berjualan. Tapi, tidak punya modal. Surti memeras otaknya, agar dapat ide, bagaimana caranya, bisa menghasilkan uang. Tiba-tiba, Surti ingat Ipan, pengasong koran di pabrik. Sejumput harapan singgah di kepala Surti. Surti pernah mengobrol panjang lebar dengan Ipan. Dari Ipan, Surti tahu untuk berdagang koran tidak perlu modal. Yang penting mendapat kepercayaan dari agen. Kalau sudah dipercaya, ambil koran pagi, langsung dijual. Besok paginya, ke agen lagi mengambil koran yang terbit hari itu dan membayar koran yang dibawa kemarin.

"Aku akan dagang koran," Surti memutuskan. Bibirnya tersenyum. Puas. Tapi sayang, sejak pabrik tutup Surti tidak pernah lagi bertemu Ipan. Maka ia mencari sendiri alamat agen koran. Dengan bertanya ke sana ke mari akhirnya ia berhasil menemukan rumah sang agen. Syukurlah, si agen bersedia mengutangi Surti. Ia menyarankan Surti berjualan di tempat yang ramai. Saat itu juga terbayang di pikiran Surti perempatan jalan dekat pabriknya. Siang malam perempatan itu selalu ramai.

Sore itu Surti pulang dengan tubuh dekil dan keringat di jidat. Ternyata, berdagang koran juga berat. Dini hari, ketika orang lain masih berselimut, ia harus berangkat ke bursa koran, menembus dinginnya cuaca. Begitu mendapat koran, langsung dibawanya ke tempat mangkal. Seharian menunggu pembeli, panas terik membakar kulit, setiap detik menghirup debu jalanan. Namun, Surti puas. Hari pertama ia jualan, korannya laris manis. Lima korannya bersisa, tapi bisa dikembalikan ke agen. Surti tidak menanggung rugi.

Malamnya, Surti mengibaskan dua lembar uang sepuluh ribuan pada Agus. "Bang Gus, ini untung Sur hari ini. Banyak ya, Bang," wajahnya sumbringah. "Kalau kita gerobak koran yang ada rak-raknya, kita bisa dagang majalah juga. Pasti labanya lebih gede lagi. Sekarang Sur hanya bisa mengasong koran dan tabloid," Surti menerangkan. "Tapi, kalau dagang majalah, harus kita beli kontan. Agen tidak kuat memodalinya."

Agus tidak bereaksi. Ia terlihat bengong. Jauh di lubuk hatinya, ia malu pada Surti. Untuk mengimbangi usaha Surti mencari uang, Agus berjanji dalam hatinya akan menggantikan tugas harian Surti, memasak dan merapikan rumah, serta menjaga Si Sulung. Jika ia berdemo, Si Sulung akan dibawanya.

Hampir setengah tahun Agus dan teman-temannya menghabiskan waktu menuntut haknya. Atas izin Tuhan, keluar juga pesangon yang didambakan Agus. Tapi jumlahnya sedikit. Itu pun ditalangi pemerintah. Uangnya hanya cukup untuk membuat gerobak koran dan modal membeli majalah. Agus kecewa. Ia berharap, uang pesangonnya jauh lebih besar. Sebab yang di-PHK hanya dua orang, yaitu dirinya dan Surti. Surti menghiburnya. Dibujuknya Agus agar pasrah pada Tuhan. Ia juga mengajak Agus berjualan koran.

Siang itu Surti bersama Agus, dan Si Sulung, menunggui gerobak koran. Mereka baru saja memakan nasi bungkus yang dibeli di Warteg. Sejak berjualan majalah dan punya gerobak, pembeli tambah banyak. Dagangan mereka terlihat semarak.

Tapi tiba-tiba, ketika mereka melayani pembeli, tiga mobil loosback berhenti di depan dagangan Surti. Puluhan petugas trantib melompat turun. Petugas menyuruh Surti dan Agus keluar gerobak. Selanjutnya, mereka beramai-ramai mengangkat gerobak Surti ke atas mobil. Koran, tabloid, dan majalah, ikut mereka bawa. Sebagian bahkan berserakan, terinjak kaki petugas.

Agus dan Surti terkesima. Ketika Surti melihat dagangannya terinjak-terinjak, hatinya mendidih. Bagaikan singa betina terluka Surti mengamuk. Diberikannya si sulung kepada Agus. Dengan membabi buta Surti menarik, menjambak, dan memukul seorang petugas. Ia berteriak-teriak histeris. Agus dengan sebelah tangannya menggendong Si Sulung berusaha merangkul Surti. Tapi, tenaga Surti telah berlipat ganda. Ia berontak dari rangkulan Agus.

Seorang petugas memegang kedua tangan Surti. Surti kesal, diludahinya petugas itu. Tersinggung diludahi, tangan besar sang petugas menampar pipi Surti. Melihat istrinya ditampar, Agus kehilangan kendali. Diambilnya sebuah batu di tanah dan dipukulkannya ke kepala petugas. Kepala petugas itu bocor. Darah mengucur deras.

Agus dan Surti diringkus petugas yang lain. Sebelum dibawa ke kantor polisi, petugas yang marah, karena temannya terluka, menghajar Agus. Tubuh Agus babak belur. Ia pingsan. Surti mati rasa. Pikirannya kosong. Si sulung menghilang. Seorang penculik anak, menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Surti dan Agus tidak bisa lagi memikirkan anak semata wayangnya itu.

Para petugas trantib pulang ke rumah. Bercengkerama dengan anak istri mereka. Tugas hari itu sudah dilaksanakan dengan baik. Jalan protokol telah bersih. Insentif dijamin dapat. Di balik senyum puas petugas trantib dan atasannya itu, terdengar tawa Surti bercampur tangisan pilu. Tangis yang mendayu, mengiringi lagu kehidupannya. Menyapa Agus yang linglung di penjara.

Otak Agus serasa mau pecah memikirkan keberadaan si Sulung. Mungkinkah Agus menyusul Surti ke rumah sakit gila? Aparat tak lagi peduli. Yang penting jalan bersih. Masyarakat nyaman. Tahun depan sang bakal penguasa terpilih lagi.

"Horas Indonesiaku! Horas penguasa! Aku Surti pendukungmu! Aku adalah sampah yang harus kau buang, Tra la la la la. Kau gus-sur, Tri li li li." Surti terus bernyanyi sepanjang waktu, diselingi seringai, tawa, tangisan, rintihan dan makian.